Suatu hari, beberapa tahun silam, sebuah rumah di pemukiman
padat Batu Ampar, Condet, Jakarta
timur terbakar hebat. Api berkobar menghanguskan apa saja. Masyarakat tidak
bisa berbuat apa-apa, karena sumber air jatuh, sementara petugas dinas pemadam
kebakaran tak kunjung datang. Tiba-tiba, di antara kerumunan penduduk,
menyeruaklah seorang lelaki berserban dan memegang tasbih. Dengan gagah berani
ia maju kea rah rumah yang terbakar itu sambil mengibas-ngibaskan serbannya.
Ajaib! Dalam waktu sekejap, api yang berkobar hebat itu padam. Setelah itu, ia
pergi begitu saja. Siapa dia?
Penduduk Batu Ampar mengenalnya sebagai Habib Umar Al-Aththas. Ulama itu
mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat, kemudia hijrah ke Batu Ampar.
Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-Aththas lahir sekitar tahun 1890-an di
Huraidhoh, Hadramaut, Yaman. Sejak muda beliau menimba ilmu agama di Hadramaut.
Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta
pada tahun 1940-an untuk menemui kedua orang tuanya, Habib Muhammad bin Hasan
bin Ali bin Hud Al-Aththas yang telah terlebih dulu menetap di Kwitang.
Dalam perjalanan ke Betawi, beliau singgah di Kuala lumpur, Singapura dan Brunei untuk
menggelar dakwah yang dihadiri ratusan jemaah. Baru pada awal 1950-an beliau
tiba di Jakarta,
dan tinggal di Pasar minggu, kemudian, ia pindah lagi dan selanjutnya menetap
di Batu Ampar. Di kediaman yang baru ini, beliau berdakwah dengan pendekatan
persuasif, penduduk mengenalnya sebagai ulama yang berpenampilan sejuk dengan
karomah luar biasa.
Karomah itu, misalnya, terjadi ketika beliau diminta membantu orang yang gemar
membeli undian. Tapi anehnya dengan tenang dan baik, Habib Umar melayaninya.
"Habib Umar, saya minta nomor undian." Kata lelaki itu tanpa sungkan.
"Aku akan berikan engkau nomor undian, dengan syarat jika engkau menang
undian segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab Habib Umar.
Beberapa hari kemudian lelaki itu datang lagi. "Habib, saya berhasil
menang undian. Ini uangnya." Katanya berseri-seri.
Dengan tenang Habib Umar minta muridnya mengambil sebuah baskom, lalu katanya,
"Perhatikan apa yang aku perbuat." Lalu beliau menggenggan uang
segepok itu dan memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari genggaman tangan Habib
Umar mengucurkan darah segar, mengalir memenuhi baskom. "Lihatlah, apa
yang telah engkau dapatkan dari undian itu." Katanya.
Lelaki itu kaget, dan akhirnya bertobat.
Di saat lain, ketika Habib Umar tengah menggelar taklim di masjid, masuklah
seorang lelaki berwajah putih bersih. "Wahai Habib Umar, bisakah aku minta
nasi kebuli?" tanya lelaki itu.
Permintaan aneh itu tentu saja membuat terkejut seluruh jamaah. Namun, dengan
tersenyum Habib Umar berkata arif, "Pergilah ke belakang, dan
bersantaplah." Maka lelaki itu pun segera pergi ke dapur.
Tak lama kemudian taklim itu pun usai, dan Habib Umar bersama para jemaah
menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tenah menyantap nasi kebuli dengan
sangat lahap.
"Siapakah dia? "dia tamu kita, dia adalah Nabi Khidlir." Jawab
Habib Umar.
Tidak semua Ulama besar mendapat kesempatan dikunjungi Nabi Khidlir. Dan
kunjungan Nabi Khidlir itu menunjukkan betapa Habib Umar sangat alim dan
shaleh.
Ada cerita lain
mengenai karomahnya. Pada suatu hari datanglah seorang lelaki membawa air agar
didoakan sebagai obat. Tapi baru saja ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah
menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan bertahan menunggu di depan pintu.
Akhirnya Habib Umar keluar. Katanya, "Pulanglah, air yang engkau bawa itu
sudah bisa menyembuhkan."
"Tapi, Bib..."
"Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?"
Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu santun dan lembut, orang itu sungkan
juga. Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang membawa air dalam botol
tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum oleh keluarganya yang
sakit.
Ajaib! Tak lama kemudian keluarga yang sakit tersebut sembuh. Setelah sembuh,
mereka bertamu ke rumah Habib Umar untuk bersilaturrahmi. Menurut beberapa
Habib yang kenal dekat dengan Habib Umar, karamah yang dimilikinya itu berkat
keikhlasan dalam merawat ibundanya. Selama 40 tahun, dengan tekun, ikhlas dan
sabar, beliau merawat sang ibu hingga akhir hayatnya.
Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqabatul Ashraf, alah satu lembaga
penyensus para habib, juga menyatakan, karamah tersebut berkat keikhlasan Habib
Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih mementingkan merawat sang ibu,
suatu saat Habib Umar tidak sempat menghadiri pengajian-pengajian di luar
rumah, termasuk masjid Riyadh,
Kwitang, yang digelar Habib Ali Al-Habsyi.
Ulama besar yang dikenal sangat sederhana dan tawaduk ini wafat pada tahun 1999
dalam usia 108 tahun, meninggalkan tiga putra : Habib Husein, Habib Muhammad
dan Habib Salim. Selama hidupnya, almarhum selalu menekankan pentingnya
mencintai dan meneladani Rasulullah saw. Sebagai ulama yang shaleh, seperti
halnya habaib yang lain, beliau juga suka menggelar maulid. Dalam maulid enam
tahun lalu, sebelum wafat Habib Umar memotong 1600 ekor kambing untuk menjamu
puluhan ribu jamaah.
Habib Umar dimakamkan di kompleks pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.
Upacara pemakamannya kala itu dihadiri puluhan ribu jemaah. Bahkan saking
banyaknya jamaah yang ingin menyalalatkan jenazahnya, salat jenazah dilakukan
sampai tiga kali dengan tiga orang imam.
http://ilovehasnibiografi.blogspot.com/2012/03/habib-umar-bin-muhammad-bin-hud-al.html
Macam-Macam Habib Di Indonesia
Jumat, 08 Maret 2013
Habib Jindan
Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib
Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi
tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa
dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Wajah dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal kalangan habaib dan muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya masih relatif muda, 31 tahun, namun reputasinya sebagai ulama dan muballig sudah diakui kaum muslimin. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis haul dan Maulid yang digelar di berbagai tempat – seperti Gresik, Surabaya, Solo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung, Palembang, Pontianak dan Kalimantan. Hampir semua daerah di negeri ini sudah dirambahnya.
Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Wajah ulama muda yang shalih ini tampak bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya berceramahnya yang enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukkan para pendengarnya. Seperti kebanyakan habib, dia pun memelihara jenggot, dibiarkannya terjurai.
Habib Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan Bin Syekh Abubakar, adalah salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Ia juga dikenal sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. “Ketika dia menerjemahkan taushiyah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar,” tutur Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf di Jakarta.
Berkah Ulama dan Habaib
Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10 Muharram 1398 atau 21 Desember 1977. Sejak kecil ia selalu berada di lingkungan majelis ta’lim, yang sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama. “Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis ta’lim di Jakarta oleh abah saya, Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan habaib yang termasyhur,” kenang bapak lima anak (empat putra, satu putri) ini kepada alKisah. Ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama.
Ketika ia berumur dua tahun, keluarganya tinggal di Pasar Minggu, bersebelahan dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad. Pada umur lima tahun, ia dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein Ba’bud dan putranya, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’abud, di Kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). “Di Lawang, sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama di sana, dibilang mengaji, tidak juga. Namun berkah dari tempat itu selama setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang,” ujarnya dengan senyum khasnya.
Menginjak umur enam tahun, ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur. Ia mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti.
Kemudian dia melanjutkan ke tingkat tsanawiyah di Madrasah Jami’atul Kheir, Jakarta, hingga tingkat aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami’at Kheir, banyak guru yang mendidiknya, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, K.H. Sabillar Rosyad, K.H. Fachrurazi Ibrahim, Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan lain-lain.
Sejak muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada habaib dan ulama di Jakarta, seperti di Madrasah Tsaqafah Islamiyah, yang diasuh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya, Ustadz Abu Bakar Assegaf. Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senen, Jakarta Pusat) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi, dengan ustadz-ustadz setempat.
Selain itu pada sorenya ia sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis Ta’lim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majelis itu, banyak habib dan ulama yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama, seperti Habib Abdullah Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib Muhammad Mulachela, Ustadz Hadi Jawwas, dan lain-lain.
Beruntung, karena sering berada di lingkungan Kwitang, ia banyak berjumpa para ulama dari mancanegara, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, dan masih banyak lainnya.
Pada setiap Ahad pagi, ia hadir di Kwitang bersama abahnya, Habib Novel, yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar 1993, ia bertemu pertama kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Ahad pagi. Pertemuan kedua terjadi saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jami’at Kheir. Saat itu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulachela dan Ustadz Hadi Assegaf.
Uniknya, satu-satunya kelas yang dimasuki Habib Umar adalah kelasnya, padahal di Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan kepada Habib Umar bahwa dirinya juga bermarga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.
Saat itulah Habib Umar tersenyum sambil memandang Habib Jindan. Itulah perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang kelasnya, yang masih terkenang sampai sekarang.
Sejak saat itu hatinya tergerak untuk belajar ke Hadhramaut. Pernah suatu ketika ia akan berangkat ke Hadhramaut, tapi sayang sang pembawa, Habib Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas), meninggal. Pernah juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi saudaranya itu sakit. Hingga akhirnya tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi, Condet) datang ke rumahnya mengabarkan bahwa Habib Umar bin Hafidz menerimanya sebagai santri.
Sumber Inspirasi
Lalu ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30 orang santri. Di antaranya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas, dan lain-lain. Ia kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadhramaut. “Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim. Kami tinggal di rumah Habib Umar,” tuturnya.
Baru dua minggu di Hadhramaut, pecah perang saudara di Yaman. Memang, situasi perang tidak terasa di lingkungan pondok. Ada perang atau tidak, Habib Umar tetap mengajar murid-muridnya. Namun dampak perang saudara ini dirasakan seluruh penduduk Yaman. Listrik mati, gas minim, bahan makanan langka. “Terpaksa kami masak dengan kayu bakar,” katanya.
Baginya, Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi. “Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang tak kenal lelah.”
Saat itu Darul Musthafa belum mantap seperti sekarang, situasinya serba terbatas. Walaupun begitu, sangat mengesankan baginya. Dahulu para santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman Habib Umar. Sedangkan pelajaran ta’lim, selain diasuh sendiri oleh Habib Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis ta’lim yang biasa digelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba’alwi, ta’lim di Zawiyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadhramaut), belajar kitab Ihya di Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti Tarim, diasuh Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal, dan lain-lain.
Selama mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan. “Beliau dalam mengajar tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar beliau mengomel atau memaki-maki kami. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih tahu. Selain itu, Habib Umar juga terkenal sangat istiqamah dalam hal apa pun.”
Habib Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik santri-santrinya bisa berdakwah. Para santri mendapat pendidikan khusus untuk memberikan taushiyah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh, masing-masing dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh menit. Latihan kultum itu juga menjadi ajang saling memberikan masukan antarsantri.
Setelah satu tahun menjadi santri, ada program dakwah tiga hari sampai seminggu bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.
Setelah selama kurang lebih empat tahun, tahun 1998, ia pulang ke Indonsia bersama rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa muridnya. Angkatan pertama ini hampir seluruhnya dari Indonesia, hanya dua-tiga orang yang santri setempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk mempersiapkan acara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.
Saat pertama kali pulang, ia, oleh sang abah, diperintahkan untuk berziarah ke para habib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Ayahandanya, Habib Novel, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf, dan Habib Anis Al-Habsyi mendorongnya untuk berdakwah.
Masukan, didikan, dan motivasi sang abah ia rasakan hingga sekarang. “Ikhlaslah dalam berdakwah. Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati,” kata Habib Jindan menirukan abahnya. Habib Novel (alm.) memang dikenal sebagai orator ulung sebagaimana abahnya, Habib Salim bin Jindan. Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yang tangguh.
Wajah dai yang satu ini tentu sudah banyak dikenal kalangan habaib dan muhibbin yang ada di Indonesia. Usianya masih relatif muda, 31 tahun, namun reputasinya sebagai ulama dan muballig sudah diakui kaum muslimin. Tidak saja di Jakarta, tapi juga di banyak majelis haul dan Maulid yang digelar di berbagai tempat – seperti Gresik, Surabaya, Solo, Pekalongan, Tegal, Semarang, Bandung, Palembang, Pontianak dan Kalimantan. Hampir semua daerah di negeri ini sudah dirambahnya.
Kemampuannya sebagai dai bukan hanya karena dia adalah cucu Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, “Singa Podium” dan pejuang dakwah di Betawi tahun 1906-1969. Tapi juga karena sedari kecil dia memang telah tertempa dalam lingkungan pendidikan yang sarat religius.
Wajah ulama muda yang shalih ini tampak bersih. Tutur katanya halus, dengan gaya berceramahnya yang enak didengar dan mengalir penuh untaian kalam salaf serta kata-kata mutiara yang menyejukkan para pendengarnya. Seperti kebanyakan habib, dia pun memelihara jenggot, dibiarkannya terjurai.
Habib Jindan, putra Habib Novel bin Salim bin Jindan Bin Syekh Abubakar, adalah salah seorang ulama yang terkenal di Jakarta. Ia juga dikenal sebagai penerjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia yang andal. “Ketika dia menerjemahkan taushiyah gurunya, Habib Umar bin Hafidz, makna dan substansinya hampir sama persis dengan bahasa aslinya. Bahkan waktunya pun hampir sama dengan waktu yang digunakan oleh Habib Umar,” tutur Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf di Jakarta.
Berkah Ulama dan Habaib
Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan lahir di Sukabumi, pada hari Rabu 10 Muharram 1398 atau 21 Desember 1977. Sejak kecil ia selalu berada di lingkungan majelis ta’lim, yang sarat dengan pendidikan ilmu-ilmu agama. “Waktu kecil saya sering diajak ke berbagai majelis ta’lim di Jakarta oleh abah saya, Habib Novel bin Salim bin Jindan. Dari situ saya mendapat banyak manfaat, antara lain berkah dari beberapa ulama dan habaib yang termasyhur,” kenang bapak lima anak (empat putra, satu putri) ini kepada alKisah. Ayahandanya memang dikenal sebagai muballigh yang termasyhur. Pengalaman masa kecil itu pula yang mendorongnya selalu memperdalam ilmu agama.
Ketika ia berumur dua tahun, keluarganya tinggal di Pasar Minggu, bersebelahan dengan rumah keluarga Habib Salim bin Toha Al-Haddad. Pada umur lima tahun, ia dititipkan untuk tinggal di rumah Habib Muhammad bin Husein Ba’bud dan putranya, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Ba’abud, di Kompleks Pondok Pesantren Darun Nasyi’ien (Lawang, Malang). “Di Lawang, sehari-hari saya tidur di kamar Habib Muhammad Ba’bud. Selama di sana, dibilang mengaji, tidak juga. Namun berkah dari tempat itu selama setahun saya tinggal, masih terasa sampai sekarang,” ujarnya dengan senyum khasnya.
Menginjak umur enam tahun, ia ikut orangtuanya pindah ke Senen Bungur. Ia mengawali belajar di SD Islam Meranti, Kalibaru Timur (Bungur, Jakarta Pusat). Ia juga belajar diniyah pada sebuah madrasah yang diasuh oleh Ustadzah Nur Baiti.
Kemudian dia melanjutkan ke tingkat tsanawiyah di Madrasah Jami’atul Kheir, Jakarta, hingga tingkat aliyah, tapi tidak tamat. Selama di Jami’at Kheir, banyak guru yang mendidiknya, seperti Habib Rizieq Shihab, Habib Ali bin Ahmad Assegaf, K.H. Sabillar Rosyad, K.H. Fachrurazi Ibrahim, Ustadz Syaikhon Al-Gadri, Ustadz Fuad bin Syaikhon Al-Gadri, dan lain-lain.
Sejak muda, sepulang sekolah ia selalu belajar pada habaib dan ulama di Jakarta, seperti di Madrasah Tsaqafah Islamiyah, yang diasuh Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf dan putranya, Ustadz Abu Bakar Assegaf. Habib Jindan juga pernah belajar bahasa Arab di Kwitang (Senen, Jakarta Pusat) di tempat Habib Muhammad bin Ali Al-Habsyi, dengan ustadz-ustadz setempat.
Selain itu pada sorenya ia sering mengikuti rauhah yang digelar oleh Majelis Ta’lim Habib Muhammad Al-Habsyi. Di majelis itu, banyak habib dan ulama yang menyampaikan pelajaran-pelajaran agama, seperti Habib Abdullah Syami’ Alattas, Habib Muhammad Al-Habsyi, Ustadz Hadi Assegaf, Habib Muhammad Mulachela, Ustadz Hadi Jawwas, dan lain-lain.
Beruntung, karena sering berada di lingkungan Kwitang, ia banyak berjumpa para ulama dari mancanegara, seperti Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, Habib Ja’far Al-Mukhdor, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, dan masih banyak lainnya.
Pada setiap Ahad pagi, ia hadir di Kwitang bersama abahnya, Habib Novel, yang juga selalu didaulat berceramah. Sekitar 1993, ia bertemu pertama kali dengan Habib Umar Hafidz di Majlis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) saat pengajian Ahad pagi. Pertemuan kedua terjadi saat Habib Umar bin Salim Al-Hafidz berkunjung ke Jami’at Kheir. Saat itu yang mengantar rombongan Habib Umar adalah Habib Umar Mulachela dan Ustadz Hadi Assegaf.
Uniknya, satu-satunya kelas yang dimasuki Habib Umar adalah kelasnya, padahal di Jami’at Kheir saat itu ada belasan kelas. Begitu masuk kelas, Ustadz Hadi Assegaf dari depan kelas memperkenalkannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz. Saat itu, Ustadz Hadi menunjuknya sambil mengatakan kepada Habib Umar bahwa dirinya juga bermarga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim, sama klannya dengan Habib Umar bin Salim Al-Hafidz.
Saat itulah Habib Umar tersenyum sambil memandang Habib Jindan. Itulah perkenalan pertama Habib Jindan dengan Habib Umar Al-Hafidz di ruang kelasnya, yang masih terkenang sampai sekarang.
Sejak saat itu hatinya tergerak untuk belajar ke Hadhramaut. Pernah suatu ketika ia akan berangkat ke Hadhramaut, tapi sayang sang pembawa, Habib Bagir bin Muhammad bin Salim Alattas (Kebon Nanas), meninggal. Pernah juga ia akan berangkat dengan salah satu saudaranya, tapi saudaranya itu sakit. Hingga akhirnya tiba-tiba Habib Abdul Qadir Al-Haddad (Al-Hawi, Condet) datang ke rumahnya mengabarkan bahwa Habib Umar bin Hafidz menerimanya sebagai santri.
Sumber Inspirasi
Lalu ia berangkat bersama rombongan pertama dari Indonesia yang jumlahnya 30 orang santri. Di antaranya Habib Munzir bin Fuad Al-Musawwa, Habib Qureisy Baharun, Habib Shodiq bin Hasan Baharun, Habib Abdullah bin Hasan Al-Haddad, Habib Jafar bin Bagir Alattas, dan lain-lain. Ia kemudian belajar agama kepada Habib Umar bin Hafidz di Tarim, Hadhramaut. “Ketika itu Habib Umar belum mendirikan Pesantren Darul Musthafa. Yang ada hanya Ribath Tarim. Kami tinggal di rumah Habib Umar,” tuturnya.
Baru dua minggu di Hadhramaut, pecah perang saudara di Yaman. Memang, situasi perang tidak terasa di lingkungan pondok. Ada perang atau tidak, Habib Umar tetap mengajar murid-muridnya. Namun dampak perang saudara ini dirasakan seluruh penduduk Yaman. Listrik mati, gas minim, bahan makanan langka. “Terpaksa kami masak dengan kayu bakar,” katanya.
Baginya, Habib Umar bin Hafidz bukan sekadar guru, tapi juga sumber inspirasi. “Saya sangat mengagumi semangatnya dalam berdakwah dan mengajar. Dalam situasi apa pun, beliau selalu menekankan pentingnya berdakwah dan mengajar. Bahkan dalam situasi perang pun, tetap mengajar. Beliau memang tak kenal lelah.”
Saat itu Darul Musthafa belum mantap seperti sekarang, situasinya serba terbatas. Walaupun begitu, sangat mengesankan baginya. Dahulu para santri tinggal di sebuah kontrakan yang sederhana di belakang kediaman Habib Umar. Sedangkan pelajaran ta’lim, selain diasuh sendiri oleh Habib Umar, para santri juga belajar di berbagai majelis ta’lim yang biasa digelar di Tarim, seperti di Rubath Tarim, Baitul Faqih, Madrasah Syeikh Ali, mengaji kitab Bukhari di Masjid Ba’alwi, ta’lim di Zawiyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (Al-Hawi, Hadhramaut), belajar kitab Ihya di Zanbal di Gubah Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus, Zawiyah Mufti Tarim, diasuh Syaikh Fadhal bin Abdurrahman Bafadhal, dan lain-lain.
Selama mengaji dengan Habib Umar, ia sangat terkesan. “Beliau dalam mengajar tidak pernah marah. Saya tidak pernah mendengar beliau mengomel atau memaki-maki kami. Kalau ada yang salah, ditegurnya baik-baik dan dikasih tahu. Selain itu, Habib Umar juga terkenal sangat istiqamah dalam hal apa pun.”
Habib Jindan mengaku sangat beruntung bisa belajar dengan seorang alim dan orator ulung seperti Habib Umar. Memang Habib Umar mendidik santri-santrinya bisa berdakwah. Para santri mendapat pendidikan khusus untuk memberikan taushiyah dalam bahasa Arab tiap sehabis shalat Subuh, masing-masing dua orang, walaupun hanya sekitar lima sampai sepuluh menit. Latihan kultum itu juga menjadi ajang saling memberikan masukan antarsantri.
Setelah satu tahun menjadi santri, ada program dakwah tiga hari sampai seminggu bagi yang mau dakwah berkeliling. Bahkan dirinya sudah mengajar untuk santri-santri senior pada akhir-akhir masa pendidikan.
Setelah selama kurang lebih empat tahun, tahun 1998, ia pulang ke Indonsia bersama rombongan Habib Umar yang mengantar sekaligus santri-santri asal Indoensia dan berkunjung ke rumah beberapa muridnya. Angkatan pertama ini hampir seluruhnya dari Indonesia, hanya dua-tiga orang yang santri setempat. Untuk itulah, ia pulang seminggu terlebih dahulu, untuk mempersiapkan acara dan program kunjungan Habib Umar di Indonesia.
Saat pertama kali pulang, ia, oleh sang abah, diperintahkan untuk berziarah ke para habib sepuh yang ada di Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Ayahandanya, Habib Novel, Habib Hadi bin Ahmad Assegaf, dan Habib Anis Al-Habsyi mendorongnya untuk berdakwah.
Masukan, didikan, dan motivasi sang abah ia rasakan hingga sekarang. “Ikhlaslah dalam berdakwah. Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati,” kata Habib Jindan menirukan abahnya. Habib Novel (alm.) memang dikenal sebagai orator ulung sebagaimana abahnya, Habib Salim bin Jindan. Wajarlah bila Habib Novel ingin putra-putranya menjadi dai-dai yang tangguh.
habib hasan bin ja`far assegaf

Habib Hasan bin Ja’far Assegaf lahir di bogor tahun 1977, di tengah-tengah wilayah para ulama besar termasuk almarhum kakek beliau Al Imam Al Qutub Al Habib Abdullah bin Muhsin Alatas sebagai pemimpin para wali dizamannya. Silsilah beliau menyambung dari ibundanya, yaitu Syarifah Fatmah binti Hasan bin Muhsin bin Abdullah Alatas.
1. Silsilah :
Al Habib Hasan bin Ja’far bin Umar bin Ja’far bin Syekh bin Abdullah bin Seggaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Adurrahman Seggaf bin Ahmad Syarif bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Syekhul Kabir Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawileh bin Ali bin Alwi Al Ghuyur bin Al Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohibul Mirbath bin Ali Kholi Qosam bin Aliw bin Muhammad bin alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far sodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Al Imam Husein Assibit bin Imam Ali KWH bin Fatimah Al Batul Binti Nabi Muhammad SAW
2. Pendidikan
Beliau belajar dengan para habaib dan ulama, diantaranya :
Al Imam Al Hafidz Al Musnid Al Habib Abdullah bin Abdul qadir Bilfaqih dan putera-putera beliau : Habib Abdul qadir bilfaqih, Habib Muhammad bilfaqih, Habib Abdurrahman bilfaqih ( Pondok pesantren Daarul Hadits Al Faqihiyyah, Malang ).
• Syekh Abdullah Abdun, Daruttauhid malang
• Syekh Umar Bafadhol, Surabaya
• Al Imam Al Arif billah Al Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul qadir Assegaf dan putera-putera beliau diantaranya Al Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf (Yayasan Ats-Tsaqofah Al Islamiyyah ).
• Al Habib Muhammad Anis bin Alwi Al Habsyi (selaku yang mengijazahkan maulid simtudduror).
• Al Habib Abdullah bin Husein syami Alatas dikediaman beliau R.a.
• Al Habib Abubakar bin Hasan Alatas, Martapura.
• KH. Dimyati, Banten.
• KH. Mama Satibi dan putera beliau, Cianjur.
• KH. Buya Yahya, Bandung
• Muallim Sholeh, Bogor.
Dan masih banyak lagi para ulama lainnya.
3. Dakwah Beliau
Dakwah beliau menjunjung tinggi Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Mengajak para pemuda pemudi, orang-orang tua maupun anak kecil berdzikir dan bersholawat yang dimulai dari :
• Kota bogor
• Sukabumi
• Bandung
• Jakarta dan sekitarnya.
4. Tujuan Dakwah
Mengikuti kakek moyang beliau sampai kejunjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Dan mengajak para muslimin dan muslimat :
• Membaca Al-Qur’an.
• Membaca Ratib Al-Atas dan Ratib Al-Haddad
• Mengenalkan salaf sholihin dengan berziarah kepada para wali Allah ketempat orang-orang sholeh.
• Membesarkan nama Rasulullah dengan pembacaan maulid
Harapan
Bersabda Nabi Muhammad SAW : “ Seorang bersama yang dicintainya “, harapan beliau agar diakui oleh Rasulullah SAW dan datuk-datuknya. Semoga semua ummat Rasulullah SAW mendapat ridho Allah dan syafaat Rasulullah SAW, kelak nanti dihari kiamat masuk surga bersama Nabi Muhammad SAW.
Bersabda Nabi Muhammad SAW : “ Apabila telah tersebar perzinahan, perjudian, permabukan, anak durhaka kepada orang tua, istri durhaka kepada suami dan banyaknya yang makan riba maka masuklah kalian kejalan keluargaku, selamatlah kalian dari malapetaka (Riwayat Abu Daud).
http://habibunnazar98.wordpress.com/2012/09/18/biografi-habib-umar-bin-hafidz-habib-munzir-al-musawa/
Habib Muhammad bin 'Abdullah al-haddar RA
Habib Muhammad bin `Abdullah al-Haddar
Nya Lineage
Dia adalah al-Habib al-`Allamah Muhammad bin` Abdullah "Al-Haddar" bin Syaikh bin Ahmad bin Muhsin bin `Ali bin Saleh bin Muhammad bin Shalih bin Ahmad bin al-Husayn bin al-Syaikh al-Fakhr Abu Bakr bin Salim bin `Abdullah bin` Abd al-Rahman bin `Abdullah bin Syaikh` Abd al-Rahman al-Saqqaf bin Syaikh Muhammad al-Mawla Dawilah, bin `Ali Mawla Darak, bin` Alawi al-Ghuyur, bin al-Faqih al-Muqaddam , Muhammad bin `Ali, bin Muhammad Sahib Mirbat, bin` Ali Khali `Qasam, bin` Alawi, bin Muhammad Sahib al-Sawma'a, bin `Alawi, bin` Ubaydullah, bin al-Imam al-Muhajir il-Allah Ahmad , bin `Isa, bin Muhammad al-Naqib, bin` Ali al-`Uraydi, bin Ja'far al-Shadiq, bin Muhammad al-Baqir, bin` Ali Zayn al-`Abidin, bin Husain al-SIBT, bin` Ali bin Abu Thalib dan Fatimah al-Zahra, putri Nabi Muhammad, penutup para nabi G.
Nya Hidup
Habib Muhammad dilahirkan di desa `Daerah orang Kanaan dekat kota al-Bayda di utara Yaman pada 1340 tahun Hijriah (1921 Masehi). Muhsin kakek buyut-Nya yang besar telah meninggalkan Hadramaut dan menetap di al-Bayda sekitar awal abad ke-13 Hijriah. Dia diberi yang terbaik dari upbringings oleh ayahnya, yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani Allah, padahal ia masih dalam kandungan ibunya berharap bahwa Allah pada gilirannya akan membuat dia seorang sarjana. Ibunya adalah Nur binti `Abdullah Ba Sahi, seorang wanita yang sangat saleh dikenal untuk ibadah dan amal. Dia akan menghabiskan dari fajar senja dalam memasak dapurnya untuk lapar, terutama pada masa kelaparan di Yaman selama Perang Dunia Kedua. Dalam masa kecilnya Habib Muhammad belajar Alquran dan ilmu-ilmu dasar dari Din dari ayahnya dan ulama al-Bayda. Pada salah satu malam terakhir bulan Ramadan sementara di masjid ia menyaksikan cahaya yang brilian. Ketika ia memberitahu ayahnya ini ia berkata kepadanya: "Mungkin itu adalah Lailatul Qadr-jadi meminta Allah untuk membuat Anda salah satu ulama yang bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka."
Rasa haus akan pengetahuan kemudian menuntunnya untuk mencoba untuk melakukan perjalanan ke Tarim pada usia tujuh belas. Setelah bepergian dengan perahu layar dari Aden ke al-Mukalla ia tidak dapat melangkah lebih jauh karena perselisihan politik dan dengan demikian kembali ke rumah. Tidak tergoyahkan, ia kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat. Ayahnya menemaninya pada leg pertama perjalanan. Ketika tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah ayahnya menghadapi kiblat dengan air mata di matanya dan berkata: "Ya Allah orang mengirimkan anak-anak mereka ke Amerika dan tempat-tempat lain untuk mendapatkan mereka uang dan saya mengirim dia untuk belajar sehingga memberinya membuka dan membuatnya salah satu ulama yang bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka "Meskipun hampir mati kehausan di jalan pegunungan antara Seiyun dan Tarim ia akhirnya tiba dengan selamat di Tarim, dan langsung menuju Ribat yang terkenal, di mana ia bertemu. oleh Syaikh nya, Habib Abdullah bin `` Umar al-Shatiri.
Habib Muhammad menghabiskan empat tahun di Ribat dalam mengejar pengetahuan. Usahanya yang besar. Ia akan mempersiapkan setiap pelajaran dengan membaca materi subjek setidaknya delapan belas kali dan hanya akan tidur sekitar dua jam di siang dan malam. Jadi dia terlibat dalam studi bahwa ia tidak pernah memasuki ruang siswa di ruang sebelah kepadanya dan melakukan surat-surat tidak terbuka yang dikirimkan kepadanya dari al-Bayda. Habib `Abdullah diakui kemampuannya dan memberinya perhatian khusus dan tanggung jawab, meninggalkan Ribat di tangannya ketika ia meninggalkan Tarim. Ia belajar di tangan antara lain Habib `Alawi bin` Abdullah Shihab al-Din, Habib Ja'far bin Ahmad al-`Aydarus dan Syaikh Mahfuzh bin Salim al-Zubaydi. Setelah kematian Habib `Abdullah pada 1361 (1941) Habib Muhammad kembali ke rumah, hatinya penuh dengan keinginan untuk menyebarkan pengetahuan dan orang-orang panduan untuk jalan Allah. Pada 1362 (1942) ia mendirikan sebuah madrasah di tempat kelahirannya `Daerah orang Kanaan. Dia juga akan mengambil da `wa nya kepada orang-orang, bepergian dari desa ke desa mengingatkan orang tugasnya. Dia akan menangani orang banyak yang berkumpul untuk pasar mingguan di kota al-Bayda dan memainkan peran penting dalam menyelesaikan konflik suku.
Dia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki untuk melakukan haji tahun 1365 (1945). Setelah kembali, ia menghabiskan beberapa waktu di Ta `izz belajar di tangan Habib Ibrahim bin` Aqil bin Yahya. Pada 1375 (1955) ia melakukan haji untuk kedua kalinya dan dari tahun itu dia akan membuat haji hampir setiap tahun, pada saat yang sama mengambil ilmu dari para ulama di Hijaz, di antaranya Sayyid `Alawi bin 'Abbas al-Maliki.
Pada 1370 (1950) ia melakukan perjalanan ke Somalia dan dibuat imam Masjid Mirwas di Mogadishu. Dia tetap ada selama satu tahun setengah. Dia mengajar terus-menerus dan mengawasi pembentukan Ribat di kota Bidua. Di sinilah syekhnya, penelepon yang besar kepada Allah Habib Ahmad Mashur al-Haddad mengunjunginya.
Habib Muhammad sudah lama ingin membangun Ribat di kota al-Bayda. Dia mencari dukungan keuangan di Aden dan Ethiopia dan konstruksi awal selesai pada 1380 (1960). Banyak orang melihat Rasulullah G dalam penglihatan mimpi memberikan kabar baik dari keberhasilan Ribat tersebut. Seseorang melihat dia menanam kakinya diberkati di Ribat yang mengatakan: Habib Muhammad sedang membutuhkan seorang guru sehingga ia meminta agar Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz mengirim seseorang dari Tarim "Ini akan tetap selama umatku tetap.". Habib Muhammad bin Salim dipilih Habib Zayn bin Ibrahim bin Sumayt, yang menjadi guru Ribat terbesar dan tetap di al-Bayda untuk sekitar dua puluh tahun. Pada 1402 (1981) Habib Umar bin Muhammad `bin Salim bin Hafiz meninggalkan Hadramaut bermasalah dan datang ke al-Bayda. Dia menghabiskan sepuluh tahun mengambil pengetahuan dari Habib Muhammad, yang menikahi putrinya kepadanya. Habib `Umar juga mengajar di Ribat dan dikeluarkan upaya-upaya besar memanggil orang-orang dari daerah kepada Allah dan Rasul-Nya G. Semua ini adalah persiapan terbaik untuk kembali ke Hadramaut setelah jatuhnya rezim sosialis dan pembentukan nya akhirnya nya sendiri ribat, Dar al-Mustafa.
Habib Muhammad adalah setia dalam oposisi kepada pemerintah sosialis yang berkuasa di Yaman Selatan tahun 1387 (1967). Hal ini menyebabkan penahanannya di al-Mukalla pada kunjungan ke Hadramaut pada tahun 1390 (1970). Tapi ini tidak mencegah dia dari menelepon kepada Allah dan dalam waktunya di sana penjara itu berubah. Kelima shalat didirikan dalam kuliah jemaat dan Habib Muhammad disampaikan dan pelajaran kepada narapidana. Karena sebagian untuk perantaraan Habib `Abd al-Qadir bin Ahmad al-Saqqaf dan Habib Ja'far al-` Aydarus, ia akhirnya dibebaskan dan ia kembali ke al-Bayda, setelah berterima kasih kepada mereka atas upaya mereka dan memperingatkan para ulama Tarim dan Seiyun dari bahaya yang tersisa di Hadramawt.
Pada 1395 (1974) ia pergi ke Kepulauan Komoro untuk mengunjungi Imam besar Habib Umar bin `Ahmad bin Sumayt dan kemudian ke Kenya untuk mengunjungi Habib Ahmad Mashur al-Haddad. Habib Muhammad telah membentuk ikatan yang erat dengan Habib `Abd al-Qadir al-Saqqaf dan mereka bersama-sama ke Irak dan Suriah di 1.396 (1975). Habib `Abd al-Qadir juga dua kali mengunjungi al-Bayda dan Ribat Habib Muhammad. Habib Muhammad sangat menghormati gerakan Tabligh dan pada 1402 (1981) ia menuju ke Pakistan, Bangladesh, Thailand dan Malaysia untuk mengunjungi ulama gerakan dan menghadiri pertemuan-pertemuan mereka.
Dari waktu ia bangkit untuk shalat malam saat terjaga nya dipenuhi dengan mengingat Allah. Dia akan menyelesaikan bacaan Al-Qur'an setiap minggu. Dia akan mengajar setiap hari dari buku-buku seperti Sahih al-Bukhari, 'Ihya' Ulum al-Din, al-Shifa dan Minhaj al-Talibin Imam al-Nawawi. Dia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah dari masa kecilnya hingga usia tuanya. Dia akan duduk setiap hari untuk menyelesaikan masalah rakyat dan menerima pertanyaan mereka dan karena pengetahuan yang besar hukumnya ia diangkat mufti dari provinsi al-Bayda.
Ia mengumpulkan sejumlah koleksi adhkar untuk dibaca siang hari dan malam (al-Fawa'id al-Ithna `Ashar, Nashi'at al-Layl) dan perjalanan (Jawahir al-Jawahir). The adhkar banyak yang dibaca hari ini di Dar al-Mustafa hanyalah pilihan dari beberapa awrad sehari-hari. Ia juga menyusun koleksi ahdkar dan duas untuk Ramadhan (al-Nafahat al-Ramadaniyya) dan Haji (Miftah al-Haji). Dia menulis sebuah risalah tentang pencapaian akhlak mulia (`Ajalat al-Sibaq), sebuah risalah tentang kinerja Haji (Risalat al-Hajj al-Mabrur) dan dikompilasi pilihan hadis berjudul al-Shifa Saqim. Melalui banyak puisi nya, banyak ditulis dalam bahasa sehari-hari bahasa Arab, ia memanggil orang-orang untuk memenuhi tugas mereka terhadap Allah dan memperingatkan mereka terhadap mematuhi-Nya.
Habib Muhammad menderita selama bertahun-tahun dari penyakit serius dan menjelang akhir hidupnya ia pindah ke Mekah yang iklim cocok kondisinya. Dia akan melakukan perjalanan secara teratur untuk mengunjungi kakeknya Rasulullah G di mana ia akan berdiri selama berjam-jam di depan Chamber Mahakudus. Ia juga akan pergi sering ke Jeddah untuk menghadiri pertemuan dari Habib `Abd al-Qadir al-Saqqaf dan juga akan menghadiri pertemuan Habib` Attas al-Habashi di Mekah. Anaknya berkata kepadanya bahwa ia tidak menyia-nyiakan momen hidupnya. Karena ketidakmampuan sebagai mendekati kematian ia memiliki salah satu kerabatnya membuat bertayamum baginya. Kata-kata terakhirnya adalah kata-kata yang akan mengulangi sering sepanjang hidupnya:
لا إله إلا الله أفني بها عمريلا إله إلا الله أدخل بها قبريلا إله إلا الله أخلو بها وحديلا إله إلا الله ألقى بها ربيla ilaha ill'Allah - dengan itu saya mengakhiri hidup saya
la ilaha ill'Allah - dengan itu saya masukkan kuburan saya
la ilaha ill'Allah - dengan itu saja saya mengisolasi diri
la ilaha ill'Allah - dengan itu saya bertemu Tuhanku
Dia kemudian jatuh ke sujud dan jiwanya meninggalkan tubuhnya. Itu adalah Rabi 8 `al-Thani 1418 (1997). Sebagai tubuhnya dibawa ke tempat peristirahatannya di Mu `allah Cemetery, Mekkah dipenuhi dengan bacaan keras la ilaha ill'Allah, akhir yang cocok untuk seorang pria yang mengatakan:" daging dan darah diresapi dengan la ilaha ill'Allah "Dia dimakamkan di dekat ibunya,. dengan Ibu Mukminin, al-Sayyida Khadija al-Kubra dan Habib Ahmad Mashur al-Haddad. Semoga Allah terus mendapatkan keuntungan kami dengan dia dan mungkin ingatannya hidup.
Dia akan mengakhiri pertemuan dan doa di bagian terakhir malam dengan kata-kata ini:
وامنن إلهي بالقبول لأعمالنا والدعوات,ندخل مع طه وآله في الصفوف الأولات,معهم وفيهم دائما في الدار ذه والآخرات,واغفر لناظمها وللقارين هم والقاريات,ومن سمعها أو نشرها وكاتبين وكاتبات,وارحم ووفق أمة أحمد واهد واصلح للنيات,عليه صلى الله وسلم عد ذر الكائنات,وآله وكل الأنبياء والصالحين والصالحات,في كل لحظة أبدا على عداد اللحظات,والحمد لله كما يحب عد النعمات,
Tuhanku memberikan tindakan kita dan penerimaan permohonanMari kita masuk (surga) bersama dengan Ta Ha dan keluarganya di baris pertama
Marilah kita bersama mereka selalu tinggal ini dan di akhiratMaafkan penyair dan mereka yang membaca puisi ini pria dan wanita
Dan siapapun yang mendengarnya dan menyebar dan orang-orang yang menulis itu laki-laki dan perempuanKasihanilah dan rahmat hibah kepada ummat Ahmad, membimbing anggotanya dan meluruskan niat kita
Mei perdamaian dan berkah besertanya jumlah atom dalam penciptaanDan pada keluarganya dan semua nabi dan orang-orang saleh dan wanita
Dalam setiap instan untuk lamanya jumlah instants dalam waktuDan pujian milik Allah untuk jumlah berkat-Nya sebagaimana Dia suka dipuji.
http://www.sunniforum.com/forum/showthread.php?69803-Habib-Muhammad-bin-Abdullah-al-haddar-RA
Nya Lineage
Dia adalah al-Habib al-`Allamah Muhammad bin` Abdullah "Al-Haddar" bin Syaikh bin Ahmad bin Muhsin bin `Ali bin Saleh bin Muhammad bin Shalih bin Ahmad bin al-Husayn bin al-Syaikh al-Fakhr Abu Bakr bin Salim bin `Abdullah bin` Abd al-Rahman bin `Abdullah bin Syaikh` Abd al-Rahman al-Saqqaf bin Syaikh Muhammad al-Mawla Dawilah, bin `Ali Mawla Darak, bin` Alawi al-Ghuyur, bin al-Faqih al-Muqaddam , Muhammad bin `Ali, bin Muhammad Sahib Mirbat, bin` Ali Khali `Qasam, bin` Alawi, bin Muhammad Sahib al-Sawma'a, bin `Alawi, bin` Ubaydullah, bin al-Imam al-Muhajir il-Allah Ahmad , bin `Isa, bin Muhammad al-Naqib, bin` Ali al-`Uraydi, bin Ja'far al-Shadiq, bin Muhammad al-Baqir, bin` Ali Zayn al-`Abidin, bin Husain al-SIBT, bin` Ali bin Abu Thalib dan Fatimah al-Zahra, putri Nabi Muhammad, penutup para nabi G.
Nya Hidup
Habib Muhammad dilahirkan di desa `Daerah orang Kanaan dekat kota al-Bayda di utara Yaman pada 1340 tahun Hijriah (1921 Masehi). Muhsin kakek buyut-Nya yang besar telah meninggalkan Hadramaut dan menetap di al-Bayda sekitar awal abad ke-13 Hijriah. Dia diberi yang terbaik dari upbringings oleh ayahnya, yang telah mengabdikan dirinya untuk melayani Allah, padahal ia masih dalam kandungan ibunya berharap bahwa Allah pada gilirannya akan membuat dia seorang sarjana. Ibunya adalah Nur binti `Abdullah Ba Sahi, seorang wanita yang sangat saleh dikenal untuk ibadah dan amal. Dia akan menghabiskan dari fajar senja dalam memasak dapurnya untuk lapar, terutama pada masa kelaparan di Yaman selama Perang Dunia Kedua. Dalam masa kecilnya Habib Muhammad belajar Alquran dan ilmu-ilmu dasar dari Din dari ayahnya dan ulama al-Bayda. Pada salah satu malam terakhir bulan Ramadan sementara di masjid ia menyaksikan cahaya yang brilian. Ketika ia memberitahu ayahnya ini ia berkata kepadanya: "Mungkin itu adalah Lailatul Qadr-jadi meminta Allah untuk membuat Anda salah satu ulama yang bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka."
Rasa haus akan pengetahuan kemudian menuntunnya untuk mencoba untuk melakukan perjalanan ke Tarim pada usia tujuh belas. Setelah bepergian dengan perahu layar dari Aden ke al-Mukalla ia tidak dapat melangkah lebih jauh karena perselisihan politik dan dengan demikian kembali ke rumah. Tidak tergoyahkan, ia kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat. Ayahnya menemaninya pada leg pertama perjalanan. Ketika tiba waktunya bagi mereka untuk berpisah ayahnya menghadapi kiblat dengan air mata di matanya dan berkata: "Ya Allah orang mengirimkan anak-anak mereka ke Amerika dan tempat-tempat lain untuk mendapatkan mereka uang dan saya mengirim dia untuk belajar sehingga memberinya membuka dan membuatnya salah satu ulama yang bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka "Meskipun hampir mati kehausan di jalan pegunungan antara Seiyun dan Tarim ia akhirnya tiba dengan selamat di Tarim, dan langsung menuju Ribat yang terkenal, di mana ia bertemu. oleh Syaikh nya, Habib Abdullah bin `` Umar al-Shatiri.
Habib Muhammad menghabiskan empat tahun di Ribat dalam mengejar pengetahuan. Usahanya yang besar. Ia akan mempersiapkan setiap pelajaran dengan membaca materi subjek setidaknya delapan belas kali dan hanya akan tidur sekitar dua jam di siang dan malam. Jadi dia terlibat dalam studi bahwa ia tidak pernah memasuki ruang siswa di ruang sebelah kepadanya dan melakukan surat-surat tidak terbuka yang dikirimkan kepadanya dari al-Bayda. Habib `Abdullah diakui kemampuannya dan memberinya perhatian khusus dan tanggung jawab, meninggalkan Ribat di tangannya ketika ia meninggalkan Tarim. Ia belajar di tangan antara lain Habib `Alawi bin` Abdullah Shihab al-Din, Habib Ja'far bin Ahmad al-`Aydarus dan Syaikh Mahfuzh bin Salim al-Zubaydi. Setelah kematian Habib `Abdullah pada 1361 (1941) Habib Muhammad kembali ke rumah, hatinya penuh dengan keinginan untuk menyebarkan pengetahuan dan orang-orang panduan untuk jalan Allah. Pada 1362 (1942) ia mendirikan sebuah madrasah di tempat kelahirannya `Daerah orang Kanaan. Dia juga akan mengambil da `wa nya kepada orang-orang, bepergian dari desa ke desa mengingatkan orang tugasnya. Dia akan menangani orang banyak yang berkumpul untuk pasar mingguan di kota al-Bayda dan memainkan peran penting dalam menyelesaikan konflik suku.
Dia melakukan perjalanan dengan berjalan kaki untuk melakukan haji tahun 1365 (1945). Setelah kembali, ia menghabiskan beberapa waktu di Ta `izz belajar di tangan Habib Ibrahim bin` Aqil bin Yahya. Pada 1375 (1955) ia melakukan haji untuk kedua kalinya dan dari tahun itu dia akan membuat haji hampir setiap tahun, pada saat yang sama mengambil ilmu dari para ulama di Hijaz, di antaranya Sayyid `Alawi bin 'Abbas al-Maliki.
Pada 1370 (1950) ia melakukan perjalanan ke Somalia dan dibuat imam Masjid Mirwas di Mogadishu. Dia tetap ada selama satu tahun setengah. Dia mengajar terus-menerus dan mengawasi pembentukan Ribat di kota Bidua. Di sinilah syekhnya, penelepon yang besar kepada Allah Habib Ahmad Mashur al-Haddad mengunjunginya.
Habib Muhammad sudah lama ingin membangun Ribat di kota al-Bayda. Dia mencari dukungan keuangan di Aden dan Ethiopia dan konstruksi awal selesai pada 1380 (1960). Banyak orang melihat Rasulullah G dalam penglihatan mimpi memberikan kabar baik dari keberhasilan Ribat tersebut. Seseorang melihat dia menanam kakinya diberkati di Ribat yang mengatakan: Habib Muhammad sedang membutuhkan seorang guru sehingga ia meminta agar Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz mengirim seseorang dari Tarim "Ini akan tetap selama umatku tetap.". Habib Muhammad bin Salim dipilih Habib Zayn bin Ibrahim bin Sumayt, yang menjadi guru Ribat terbesar dan tetap di al-Bayda untuk sekitar dua puluh tahun. Pada 1402 (1981) Habib Umar bin Muhammad `bin Salim bin Hafiz meninggalkan Hadramaut bermasalah dan datang ke al-Bayda. Dia menghabiskan sepuluh tahun mengambil pengetahuan dari Habib Muhammad, yang menikahi putrinya kepadanya. Habib `Umar juga mengajar di Ribat dan dikeluarkan upaya-upaya besar memanggil orang-orang dari daerah kepada Allah dan Rasul-Nya G. Semua ini adalah persiapan terbaik untuk kembali ke Hadramaut setelah jatuhnya rezim sosialis dan pembentukan nya akhirnya nya sendiri ribat, Dar al-Mustafa.
Habib Muhammad adalah setia dalam oposisi kepada pemerintah sosialis yang berkuasa di Yaman Selatan tahun 1387 (1967). Hal ini menyebabkan penahanannya di al-Mukalla pada kunjungan ke Hadramaut pada tahun 1390 (1970). Tapi ini tidak mencegah dia dari menelepon kepada Allah dan dalam waktunya di sana penjara itu berubah. Kelima shalat didirikan dalam kuliah jemaat dan Habib Muhammad disampaikan dan pelajaran kepada narapidana. Karena sebagian untuk perantaraan Habib `Abd al-Qadir bin Ahmad al-Saqqaf dan Habib Ja'far al-` Aydarus, ia akhirnya dibebaskan dan ia kembali ke al-Bayda, setelah berterima kasih kepada mereka atas upaya mereka dan memperingatkan para ulama Tarim dan Seiyun dari bahaya yang tersisa di Hadramawt.
Pada 1395 (1974) ia pergi ke Kepulauan Komoro untuk mengunjungi Imam besar Habib Umar bin `Ahmad bin Sumayt dan kemudian ke Kenya untuk mengunjungi Habib Ahmad Mashur al-Haddad. Habib Muhammad telah membentuk ikatan yang erat dengan Habib `Abd al-Qadir al-Saqqaf dan mereka bersama-sama ke Irak dan Suriah di 1.396 (1975). Habib `Abd al-Qadir juga dua kali mengunjungi al-Bayda dan Ribat Habib Muhammad. Habib Muhammad sangat menghormati gerakan Tabligh dan pada 1402 (1981) ia menuju ke Pakistan, Bangladesh, Thailand dan Malaysia untuk mengunjungi ulama gerakan dan menghadiri pertemuan-pertemuan mereka.
Dari waktu ia bangkit untuk shalat malam saat terjaga nya dipenuhi dengan mengingat Allah. Dia akan menyelesaikan bacaan Al-Qur'an setiap minggu. Dia akan mengajar setiap hari dari buku-buku seperti Sahih al-Bukhari, 'Ihya' Ulum al-Din, al-Shifa dan Minhaj al-Talibin Imam al-Nawawi. Dia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah dari masa kecilnya hingga usia tuanya. Dia akan duduk setiap hari untuk menyelesaikan masalah rakyat dan menerima pertanyaan mereka dan karena pengetahuan yang besar hukumnya ia diangkat mufti dari provinsi al-Bayda.
Ia mengumpulkan sejumlah koleksi adhkar untuk dibaca siang hari dan malam (al-Fawa'id al-Ithna `Ashar, Nashi'at al-Layl) dan perjalanan (Jawahir al-Jawahir). The adhkar banyak yang dibaca hari ini di Dar al-Mustafa hanyalah pilihan dari beberapa awrad sehari-hari. Ia juga menyusun koleksi ahdkar dan duas untuk Ramadhan (al-Nafahat al-Ramadaniyya) dan Haji (Miftah al-Haji). Dia menulis sebuah risalah tentang pencapaian akhlak mulia (`Ajalat al-Sibaq), sebuah risalah tentang kinerja Haji (Risalat al-Hajj al-Mabrur) dan dikompilasi pilihan hadis berjudul al-Shifa Saqim. Melalui banyak puisi nya, banyak ditulis dalam bahasa sehari-hari bahasa Arab, ia memanggil orang-orang untuk memenuhi tugas mereka terhadap Allah dan memperingatkan mereka terhadap mematuhi-Nya.
Habib Muhammad menderita selama bertahun-tahun dari penyakit serius dan menjelang akhir hidupnya ia pindah ke Mekah yang iklim cocok kondisinya. Dia akan melakukan perjalanan secara teratur untuk mengunjungi kakeknya Rasulullah G di mana ia akan berdiri selama berjam-jam di depan Chamber Mahakudus. Ia juga akan pergi sering ke Jeddah untuk menghadiri pertemuan dari Habib `Abd al-Qadir al-Saqqaf dan juga akan menghadiri pertemuan Habib` Attas al-Habashi di Mekah. Anaknya berkata kepadanya bahwa ia tidak menyia-nyiakan momen hidupnya. Karena ketidakmampuan sebagai mendekati kematian ia memiliki salah satu kerabatnya membuat bertayamum baginya. Kata-kata terakhirnya adalah kata-kata yang akan mengulangi sering sepanjang hidupnya:
لا إله إلا الله أفني بها عمريلا إله إلا الله أدخل بها قبريلا إله إلا الله أخلو بها وحديلا إله إلا الله ألقى بها ربيla ilaha ill'Allah - dengan itu saya mengakhiri hidup saya
la ilaha ill'Allah - dengan itu saya masukkan kuburan saya
la ilaha ill'Allah - dengan itu saja saya mengisolasi diri
la ilaha ill'Allah - dengan itu saya bertemu Tuhanku
Dia kemudian jatuh ke sujud dan jiwanya meninggalkan tubuhnya. Itu adalah Rabi 8 `al-Thani 1418 (1997). Sebagai tubuhnya dibawa ke tempat peristirahatannya di Mu `allah Cemetery, Mekkah dipenuhi dengan bacaan keras la ilaha ill'Allah, akhir yang cocok untuk seorang pria yang mengatakan:" daging dan darah diresapi dengan la ilaha ill'Allah "Dia dimakamkan di dekat ibunya,. dengan Ibu Mukminin, al-Sayyida Khadija al-Kubra dan Habib Ahmad Mashur al-Haddad. Semoga Allah terus mendapatkan keuntungan kami dengan dia dan mungkin ingatannya hidup.
Dia akan mengakhiri pertemuan dan doa di bagian terakhir malam dengan kata-kata ini:
وامنن إلهي بالقبول لأعمالنا والدعوات,ندخل مع طه وآله في الصفوف الأولات,معهم وفيهم دائما في الدار ذه والآخرات,واغفر لناظمها وللقارين هم والقاريات,ومن سمعها أو نشرها وكاتبين وكاتبات,وارحم ووفق أمة أحمد واهد واصلح للنيات,عليه صلى الله وسلم عد ذر الكائنات,وآله وكل الأنبياء والصالحين والصالحات,في كل لحظة أبدا على عداد اللحظات,والحمد لله كما يحب عد النعمات,
Tuhanku memberikan tindakan kita dan penerimaan permohonanMari kita masuk (surga) bersama dengan Ta Ha dan keluarganya di baris pertama
Marilah kita bersama mereka selalu tinggal ini dan di akhiratMaafkan penyair dan mereka yang membaca puisi ini pria dan wanita
Dan siapapun yang mendengarnya dan menyebar dan orang-orang yang menulis itu laki-laki dan perempuanKasihanilah dan rahmat hibah kepada ummat Ahmad, membimbing anggotanya dan meluruskan niat kita
Mei perdamaian dan berkah besertanya jumlah atom dalam penciptaanDan pada keluarganya dan semua nabi dan orang-orang saleh dan wanita
Dalam setiap instan untuk lamanya jumlah instants dalam waktuDan pujian milik Allah untuk jumlah berkat-Nya sebagaimana Dia suka dipuji.
http://www.sunniforum.com/forum/showthread.php?69803-Habib-Muhammad-bin-Abdullah-al-haddar-RA
Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc
setelah menelusri,mempelajari dan mencari
situs situs yang memuat silsilah dari Habib Muhammad Rizieq bin Husein
Shihab,baik melalui forum dan blog dan menanyakan langsung ke kerabat
dekat beliau dan hasilnya pun nihil. maka saya mengambil kesimpulan
dengan berkeyakinan dan kepercayaan yang saya anut,maka benar Habib
Muhammad Rizieq bin Husein Shihab adalah benar keturunan dari Rasulullah
SAW,dan beliau pun pernah mengeluarkan pernyataan tentang silsilah dan
keturunan rasulullah SAW, inilah perkataannya :
Melihat
begitu patuhnya para anggota FPI kepada ketua umumnya, saya teringat
pada pemimpin Pandu Arab Indonesia, Habib Husein Shihab, ayah Habib
Muhammad Rizieq Shihab. Pada awal 1950-an, Habib Husein Shihab telah
menghimpun para pemuda Arab untuk mengabdi pada bangsa melalui bidang
kepanduan. Dia lebih dikenal dengan sebutan hopman — kata Belanda untuk
pemimpin kepanduan.
Seperti juga Habib Muhammad Rizieq Shihab, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan memberikan pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab Indonesia. Saya, yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengah abad lalu, membandingkan penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan ribu massa FPI — menurut Habib Muhammad Rizieq Shihab anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta orang.
Rupanya
pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada
kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA.
Tanpa ampun lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat
dan ia diseret dengan kendaraan jip.
Lahir
di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1965,ayah beliau Habib Husein bin
muhammad Shihab dan ibu beliau Syarifah Sidah alatas,ayahnya meninggal
semenjak beliau masih berumur 11 bulan,dan semenjak itulah Habib
Muhammad Rizieq Shihab tidak dididik di pesantren. Namun sejak berusia
empat tahun, Beliau sudah rajin mengaji di masjid-masjid. Ibunya yang
sekaligus berperan sebagai bapak dan bekerja sebagai penjahit pakaian
serta perias pengantin, sangat memperhatikan pendidikan Habib Muhammad
Rizieq Shihab dan satu anaknya yang lain.
“garis keturunan bukan untuk tujuan pamer. Jika itu adalah tujuan, maka harus merupakan kesombongan, dan itu adalah dosa,”
saya tahu tentang prilaku dan sifat
beliau yang tidak sombong, murah senyum dan penuh kasih sayang, maka
benar jika beliau tidak mengumbar silsilah / sanad nya ke khayalak
ramai.
Keturunan Macan Betawi dan pejuang kemerdekaan
Ahad 19 Agustus 2007, Front Pembela Islam (FPI) menyelenggarakan milad ke-9 di markasnya, Jati petamburan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri sekitar lima sampai enam ribu anggotanya, termasuk wakil FPI dari 25 provinsi.
Keturunan Macan Betawi dan pejuang kemerdekaan
Ahad 19 Agustus 2007, Front Pembela Islam (FPI) menyelenggarakan milad ke-9 di markasnya, Jati petamburan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri sekitar lima sampai enam ribu anggotanya, termasuk wakil FPI dari 25 provinsi.
Di sepanjang Jl Jati petamburan III
(sekitar 300 meter) digelar permadani untuk para jamaah. Sedang di
sebagian ruas Jl Jati pemburan Raya, depan RS Pelni, hanya dapat
dilewati kendaraan satu jalur karena sebagian di padati massa yang
mengenakan busana putih dan peci putih.
Acara itu dimulai shalat Subuh berjamaah.
Diteruskan dzikir, tahlil dan ceramah maulid Nabi Muhammad SAW yang
berlangsung hingga pukul 09.30 pagi. Diakhiri dengan pawai keliling
Jakarta. Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Husein Shihab, ketika
melepas pawai, meminta agar mereka tertib dan sopan.
Melihat
begitu patuhnya para anggota FPI kepada ketua umumnya, saya teringat
pada pemimpin Pandu Arab Indonesia, Habib Husein Shihab, ayah Habib
Muhammad Rizieq Shihab. Pada awal 1950-an, Habib Husein Shihab telah
menghimpun para pemuda Arab untuk mengabdi pada bangsa melalui bidang
kepanduan. Dia lebih dikenal dengan sebutan hopman — kata Belanda untuk
pemimpin kepanduan.Seperti juga Habib Muhammad Rizieq Shihab, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan memberikan pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab Indonesia. Saya, yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengah abad lalu, membandingkan penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan ribu massa FPI — menurut Habib Muhammad Rizieq Shihab anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta orang.
Sangat jauh berbeda dengan penampilan
sang ayah yang sering memakai jas dan dasi, putranya ini selalu
mengenakan jubah dan sorban. ”Ayah saya memang modern dan orangnya
sangat berbaur,” kata Habib Muhammad Rizieq Shihab, kelahiran Agustus
1965. Wajah Rizieq hampir sama dengan wajah almarhum ayahnya.
Sekalipun cara berpakaian dan berpikirnya
modern,Habib Husein Shihab sangat dekat dengan ulama Betawi terkemuka,
Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat. Pada acara-acara seperti
Maulid Nabi, Isra Miraj dan menerima tamu asing, Habib Ali selalu
meminta Habib Husein Shihab yang fasih berbahasa Belanda menjadi MC.
Acara-acara Pandu Arab yang dilakukan tiap Sabtu sore berlangsung di
halaman Madrasah Unwanul Falah di Kwitang. Madrasah yang dibangun oleh
Habib Ali pada 1911 ini telah melahirkan sejumlah ulama Betawi.
Habib Rizieq mengaku ketika ayahnya
meninggal dunia tahun 1966, dia baru berusia 11 bulan. ”Jadi saya
mengenalnya hanya dari foto,” katanya.
Sang ayah yang lahir tahun 1920-an,
sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara, berkata kepada seorang anggota
keluarganya, ”Tanyakan kepada putra saya ini, kalau sudah besar mau
menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik agamanya dengan
baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.”
Sejak itu, Habib Muhammad Rizieq Shihab
dipindahkan ke Jati petamburan dan terakhir lulus Riyadh University
(kini King Saud University) Arab Saudi. Kini dia tengah menyelesaikan
tesis pada University Malaya, Kuala Lumpur, untuk lulus S2 bidang
Syariat.
Menurut sejumlah teman almarhum Habib
Husein Shihab yang kini rata-rata berusia diatas 80 tahun, pemimpin
Pandu Arab ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini Palang Merah
Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.
Habib Husein, yang ketika itu masih
berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik. Di sini dia punya
hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Dia banyak memberikan makanan
dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di Jakarta dan
sekitarnya.
Rupanya
pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada
kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA.
Tanpa ampun lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat
dan ia diseret dengan kendaraan jip.
Di penjara dia divonis hukuman mati oleh
Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah,Habib Husein Shihab berhasil kabur
dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Dia selamat, meskipun bagian
pantatnya tertembak. Dia sadar setelah sebelumnya mendapat pertolongan
dari KH Nur Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.
Suatu hari, Habib Muhammad Rizieq Shihab
memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno, Fatmawati, dalam
suatu upacara pada awal kemerdekaan. Dia menyatakan bangga, ayahnya
punya semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar para pemuda
Arab melawan Belanda melalui Pandu Arab Indonesia.
Ayah Habib Husein Shihab, Habib Muhammad
Shihab, dahulu pernah memiliki ratusan delman dan memiliki istal kuda di
depan RS Pelni. Delman yang bertrayek Tanah Abang ke Kebayoran Lama ini
pernah diganggu oleh preman yang mengaku anak buah si Pitung, jagoan
Betawi yang dibenci Belanda.
Seperti dituturkan Habib Muhammad Rizieq,
kakeknya itu langsung menemui Pitung yang merasa tidak senang namanya
dicatut. Rupanya pertemuan itu malah membuat dua tokoh Betawi tersebut
menjadi akrab. Akhirnya, Habib Muhammad dikawinkan dengan ponakan Pitung
dari Koebon Nanas, Kebayoran Lama. Dari perkawinan ini lahirlah Habib
Husein Shihab, ayah dari Habib Muhammad Rizieq Shihab.
Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab Lc
Lahir
di Jakarta pada tanggal 24 Agustus 1965,ayah beliau Habib Husein bin
muhammad Shihab dan ibu beliau Syarifah Sidah alatas,ayahnya meninggal
semenjak beliau masih berumur 11 bulan,dan semenjak itulah Habib
Muhammad Rizieq Shihab tidak dididik di pesantren. Namun sejak berusia
empat tahun, Beliau sudah rajin mengaji di masjid-masjid. Ibunya yang
sekaligus berperan sebagai bapak dan bekerja sebagai penjahit pakaian
serta perias pengantin, sangat memperhatikan pendidikan Habib Muhammad
Rizieq Shihab dan satu anaknya yang lain.
Setelah lulus SD, Habib Muhammad Rizieq
Shihab masuk ke SMP Pejompongan, Jakarta Pusat. Ternyata jarak sekolah
dengan rumahnya di Petamburan, juga di Jakarta Pusat, terlalu jauh.
Beliau pun kemudian dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat dengan
tempat tinggalnya, SMP Kristen Bethel Petamburan. Lulus SMA, Habib
Rizieq meneruskan studinya di King Saudi University, Arab Saudi, yang
diselesaikan dalam waktu empat tahun dengan predikat cum-laude. Habib
Muhammad Rizieq Shihab pernah kuliah untuk mengambil S2 di Malaysia,
tetapi hanya setahun.
Habib Muhammad Rizieq Shihab
mendeklarasikan berdirinya Front Pembela Islam (FPI) tanggal 17 Agustus
1998. FPI mulai dikenal sejak terjadi Peristiwa Ketapang, Jakarta, 22
November 1998, sekitar 200 anggota massa FPI bentrok dengan ratusan
preman. Bentrokan bernuansa suku, agama, ras, antargolongan ini
mengakibatkan beberapa rumah warga dan rumah ibadah terbakar serta
menewaskan sejumlah orang.dan disini lah saya baru mengenal beliau.
Nasabnya hingga ke Rasulullah S A W
Nasab Habib Muhammad Rizieq Syihab bin
Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin
Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar
bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al-Akbar bin Abdurrahman
bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Segaf …bin
Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad
Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath
bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad
Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi
bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin
Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta
Rasulullah Muhammad SAW
http://basaudan.wordpress.com/2011/02/14/habib-muhammad-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc/
Habib Luthfi bin Yahya
Nasab Jalur Ibu
Dilahirkan di Pekalongan pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab 1367 H.
Bertepatan tanggal 10 November
dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah
as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin
Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad
bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam
Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin
Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi.
Nasab Jalur Ayah
Rasulullah Muhammad SAW, Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Imam Husein ash-Sibth, Imam Ali Zainal Abiddin, Imam Muhammad al-Baqir, Imam Ja’far Shadiq, Imam Ali al-Uraidhi, Imam Muhammad an-Naqib, Imam Isa an-Naqib ar-Rumi, Imam Ahmad Al-Muhajir, Imam Ubaidullah, Imam Alwy Ba’Alawy, Imam Muhammad, Imam Alwy, Imam Ali Khali Qasam, Imam Muhammad Shahib Marbath, Imam Ali, Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy, Imam Alwy al-Ghuyyur, Imam Ali Maula Darrak, Imam Muhammad Maulad Dawileh, Imam Alwy an-Nasiq, Al-Habib Ali, Al-Habib Alwy, Al-Habib Hasan, Al-Imam Yahya Ba’Alawy, Al-Habib Ahmad, Al-Habib Syekh, Al-Habib Muhammad, Al-Habib Thoha, Al-Habib Muhammad al-Qodhi, Al-Habib Thoha, Al-Habib Hasan, Al-Habib Thoha, Al-Habib Umar, Al-Habib Hasyim, Al-Habib Ali, Al-Habib Muhammad Luthfi
Masa Pendidikan
Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi
diterima dari ayah al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau
belajar di Madrasah Salafiyah. Guru-guru beliau di Madrasah itu di antaranya:
• Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin
Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas
• Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid
Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri)
• Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin
‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi
• Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin
Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Beliau belajar di madrasah tersebut selama
tiga tahun.
Perjalanan Ilmiah
Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau
melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep di Cirebon. Kemudian ke Indramayu,
Purwokerto dan Tegal. Setelah itu melanjutkan ke Mekah, Madinah dan dinegara
lainnya. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf
dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang
penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi.
Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat
ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Dakwah dan nasyru
syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf,
kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab
tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib,
kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya,
nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah
untuk membai’at.http://fazza-go.blogspot.com/2012/05/biografi-habib-luthfi-bin-yahya.html
Habib Ali Jufri
Habib
Ali Al-Jufri lahir di kota Jeddah, Arab Saudi, menjelang fajar, pada
hari Jum’at 16 April 1971 (20 Shafar 1391 H). Ayahnya adalah Habib
Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alwi Al-Jufri, sedangkan ibundanya
Syarifah Marumah binti Hasan bin Alwi binti Hasan bin Alwi bin Ali
Al-Jufri.menimba ilmu dari para tokoh besar. Habib Abdul Qadir bin Ahmad
Assegaf adalah salah seorang guru utamanya. Kepadanya ia membaca dan
mendengarkan pembacaan kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Tajrid
Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, dan kitab-kitab penting lainnya. Cukup
lama Habib Ali belajar kepadanya, sejak usia 10 tahun hingga berusia 21
tahun.juga berguru kepada Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, ulama
terkemuka dan penulis karya-karya terkenal. Di antara kitab yang
dibacanya kepadanya adalah Idhah Asrar `Ulum Al-Muqarrabin. Sayyid
Muhammad bin Alwi Al-Maliki juga salah seorang gurunya. Kepadanya ia
mempelajari kitab-kitab musthalah hadits, ushul, dan sirah. Sedangkan
kepada Habib Hamid bin Alwi bin Thahir Al-Haddad, ia membaca
Al-Mukhtashar Al-Lathif dan Bidayah Al-Hidayah.Ia pun selama lebih dari
empat tahun menimba ilmu kepada Habib Abu Bakar Al-`Adni bin Ali
Al-Masyhur, dengan membaca dan mendengarkan kitab Sunan Ibnu Majah,
Ar-Risalah Al-Jami`ah, Bidayah Al-Hidayah, Al-Muqaddimah
Al-Hadhramiyyah, Tafsir Al-Jalalain, Tanwir Al-Aghlas, Lathaif
Al-Isyarat, Tafsir Ayat Al-Ahkam, dan Tafsir Al-Baghawi.
Pada tahun 1412 H (1991 M) Habib Ali mengikuti kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, hingga tahun 1414 H (1993 M).
Kemudian ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan juga mendampingi Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz sejak tahun 1993 hingga 2003. Kepadanya, Habib Ali membaca dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk Al-Murid, Risalah Al-Mu`awanah, Minhaj Al-`Abidin, Al-`Iqd An-Nabawi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Al-Hikam, dan sebagainya.
Selain kepada mereka, ia pun menimba ilmu kepada para tokoh ulama lainnya, seperti Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Sya`rawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi di Al-Jami` Al-Husaini dan di Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, juga Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Di samping itu, Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu
http://pondoktauhid.blogspot.com/2010/10/biodata-habib-ali-jufri.html
Pada tahun 1412 H (1991 M) Habib Ali mengikuti kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Shan`a, Yaman, hingga tahun 1414 H (1993 M).
Kemudian ia menetap di Tarim, Hadhramaut. Di sini ia belajar dan juga mendampingi Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz sejak tahun 1993 hingga 2003. Kepadanya, Habib Ali membaca dan menghadiri pembacaan kitab-kitab Shahih Al-Bukhari, Ihya’ Ulumiddin, Adab Suluk Al-Murid, Risalah Al-Mu`awanah, Minhaj Al-`Abidin, Al-`Iqd An-Nabawi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Al-Hikam, dan sebagainya.
Selain kepada mereka, ia pun menimba ilmu kepada para tokoh ulama lainnya, seperti Syaikh Umar bin Husain Al-Khathib, Syaikh Sayyid Mutawalli Asy-Sya`rawi, Syaikh Ismail bin Shadiq Al-Adawi di Al-Jami` Al-Husaini dan di Al-Azhar Asy-Syarif, Mesir, juga Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim. Di samping itu, Habib Ali juga mengambil ijazah dari 300-an orang syaikh dalam berbagai cabang ilmu
http://pondoktauhid.blogspot.com/2010/10/biodata-habib-ali-jufri.html
Langganan:
Postingan (Atom)
